Tere Liye

Perjalanan kita mungkin masih jauh sekali. Tentu saja bukan perjalanan kapal ini yang kumaksud. Meski memang perjalanan ke Pelabuhan Jeddah masih berminggu-minggu. Melainkan perjalanan hidup kita. Kau masih muda. Perjalanan hidupmu boleh jadi jauh sekali, Nak. Hari demi hari, hanyalah pemberhentian kecil. Bulan demi bulan, itu pun sekedar pelabuhan sedang. Pun tahun demi tahun, mungkin itu bisa kita sebut dermaga transit besar. Tapi itu semua sifatnya adalah pemberhentian semua. Dengan segera kapal kita berangkat kembali, menuju tujuan paling hakiki. Maka jangan pernah merusak diri sendiri. Kita boleh benci atas kehidupan ini. Boleh kecewa. Boleh marah. Tapi ingatlah nasihat lama, tidak pernah ada pelaut yang merusak kapalnya sendiri. Akan dia rawat kapalnya, hingga dia bisa tiba di pelabuhan terakhir. Maka, jangan rusak kapal kehidupan milik kita, hingga dia tiba di pelabuhan terakhirnya.

Tere Liye

Kehidupanmu ada di persimpangan berikutnya. Dulu kamu bertanya tentang definisi pulang, dan kamu berhasil menemukannya, bahwa siapa pun pasti akan pulang ke hakikat kehidupan. Kamu akhirnya pulang menjenguk pusara bapak dan mamakmu, berdamai dengan masa lalu yang menyakitkan. Tapi lebih dari itu, ada pertanyaan penting berikutnya yang menunggu dijawab. Pergi. Sejatinya, ke mana kita akan pergi setelah tahu definisi pulang tersebut? Apa yang harus dilakukan? Berangkat ke mana? Bersama siapa? Apa ‘kendaraannya’? Dan ke mana tujuannya? Apa sebenarnya tujuan hidup kita? Itulah persimpangan hidupmu sekarang. Menemukan jawaban tersebut. ‘Kamu akan pergi ke mana?’

Mario Teguh

Mulailah Keberhasilan Anda Dari Mana Pun Anda Berada Jangan pernah lupakan, bahwa Anda sampai, hanya karena Anda berangkat. Ketahuilah, batas waktu dibuat bukan karena Anda harus selesai, tetapi karena Anda harus segera memulai. Dan setelah pengertian ini mendapatkan tempat yang kuat di hati Anda, perjelaslah bagi diri Anda sendiri, bahwa Keberhasilan Anda ada pada tempat yang lebih tinggi dari yang sedang Anda kerjakan sekarang. Mulailah.

Mario Teguh

Anda seolah bisa meramal kualitas masa depan seseorang dari kemudahannya untuk memperbarui dirinya. Jika ia ramah dalam menyikapi perubahan, ia menerima nasehat baik dengan tulus, ia mendengarkan celoteh pesimis orang lain dengan penolakan dalam hati yang santun, jika ia ikhlas merayakan kehebatan orang lain, ia tidak mendahulukan keraguan, ia memulai dengan yang ada, dengan sebaik-baiknya kesungguhan, jika ia bergaul dengan orang-orang baik, terlibat dalam pekerjaan baik, bergembira dalam pekerjaannya, ikhlas dalam pelayanannya, dan berserah kepada Tuhan dalam penantian hasil dari pekerjaannya, jika ia berangkat bekerja dengan doa dari keluarga, dan ia pulang ke rumah dengan kerinduan untuk membahagiakan keluarga, maka siapa pun bisa meramalkan kehidupan yang sejahtera, berbahagia, dan cemerlang baginya.

Ahmad Wahib

Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan buddha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis. Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. Aku ingin orang menilai dan memandangku sebagai suatu kemutlakan (absolute entity) tanpa menghubung-hubungkan dari kelompok mana saya termasuk serta dari aliran apa saya berangkat. Memahami manusia sebagai manusia. (Catatan Harian 9 Oktober 1969)

Anonim

Akal itu menteri yang menasihati, hati itu ialah raja yang menentukan, harta itu satu tamu yang akan berangkat, kesenangan itu satu masa yang ditinggalkan.